Puisi Kebangsaan Polisi Bintang Tiga “Goresan Tinta Emas Itu Panggilan Mengabdi”

  • Whatsapp
banner 468x60

 (JAKARTA) – Mengalir darah tanah nenek moyang Kerajaan termasyhur bernama Sriwijaya, Perwira Polisi Bintang Tiga ini, menggoreskan “tinta komando”, bak mengayun sampan menelusuri sungai Musi, “Membangun Martabat Bangsa”.

Siapa sangka dalam detak dan detik urat beserta aliran darah, mengalir seperti sungai Musi ketika membagikan nafas dan seluruh jiwa raganya untuk kemakmuran bangsa dan negara, Perwira Polisi Bintang Tiga ini, menyerahkan seluruh mengabdikan untuk harkat dan derajat bangsa ini, dalam puisi.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Bagaimana tidak? Goresan “Membangun Martabat Bangsa”, begitu memanggil seluruh anak bangsa senantiasa mengabdikan diri kepada nusantara selama hayat di kandung badan …
….
“saudara- saudara sebangsa setanah air, kemerdekaan yang kita raih perjuangan dan pengorbanan darah, air mata, tangis dari generasi ke generasi dan tak pernah hilang dari ingatan kita, bukan hanya sejarah tapi ruh bangsa yang mengajarkan keberanian, keberpihakan, cita-cita, walau ribuan mitraliur menyerbu, mendentum, kita tetap balik menyerbu, itulah Indonesia.

Komisaris Jendral Pol Drs. Firli Bahuri, MSi, bukan karena anak bangsa dari Lontar, Muara Jaya, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, seperti para pendahulu kehebatan leluhur Kerajaan Sriwijaya, berlayar jauh menembus langit dan menancapkan kaki sampai batas akhir bumi, membela lautan di sepanjang ombak bergemuruh, menjangkau bumi tanpa batas dengan mengibarkan bendera  nusantara jaya. Tetap memanggil-manggil, tetap berjuang walau sesulit apapun.

Bait dari “Membangun Martabat Bangsa”, memberi panggilan jiwa senantiasa merasa
terus dan untuk selamanya berjuang bersama anak bangsa.

“Kemarin, hari ini dan lusa tetap sama dan tidak pernah bergeser apalagi berubah,
kita akan tetap berjuang dengan semangat tak pernah menyerah untuk menghadapi tantangan yang terus menghadang bahkan saat ini lebih sulit”,

Jenderal dua kali menjabat Kapolda ini, Kapolda Nusa Tenggara Barat (3 Februari 2017 – 8 April 2018) dan Kapolda Sumsel (20 Juni 2019 – 8 November 2019), dengan goresan sajak dan puisi, syair pak Polisi Jenderal Bintang Tiga, begitu tinggi mengabdi kepada pemilik negeri, kepada mereka “pemilik kitab suci” bumi pertiwi, Undang Undang Dasar Negara…

“Membangun Martabat Bangsa”, memberikan bunga surga selamanya, memberikan pundak beserta mata telanjang dan mata bathin menjaga negara ini.

Syair itu;
Ir. Soekarno pernah menyampaikan
“perjuangan ku lebih mudah karena melawan penjajah, perjuangan mu lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”.

Kemarin mengusir cengkraman Belanda, Jepang dan Sekutu, sulit memuntahkan amarah, menahan duka-duka dan menggelar kematian pejuang bangsa, mereka gugur atas nama pahlawan Indonesia.

Puisi kebangsaan Pak Polisi Jenderal Bintang Tiga, penjaga Marwah pemberantasan korupsi, begitu kuat memberi arti ketika suasana negeri membutuhkan kehadiran semua insan, pejuang sejati, pejuang penakluk para koruptor, pejuang tanpa pamrih.

…….
disaat yang sama,hari ini kita juga berjibaku melawan musuh bangsa sendiri ;
melawan para koruptor,
melawan kebodohan, melawan kemiskinan, melawan ketertinggalan, melawan intoleransi, melawan persekusi dan melawan korupsi.

Selamanya Jenderal Bintang Tiga ini melawan korupsi, goresan dan lukisan dari “tinta komando” itu panggilan untuk mengabdi.

“Membangun Martabat Bangsa”, bukan sekedar membangun gedung mencakar langit, tetapi membangun jiwa keberanian, membangun martabat kesabaran, dan membangun kemauan bersama anak bangsa dalam kesamaan irama Indonesia Raya.

Cuplikan syair “Membangun Martabat Bangsa”, menggoreskan tinta dari air di pelupuk mata…, menitipkan pesan itu begitu kokoh, menggelorakan semangat seluruh jiwa dan raga menghadapi Covid-19.

saudara saudara sebangsa setanah air, seirama dan sepenanggungan.
tentu kita bertanya, dimanakah kita sekarang ?

Hari ini kita sedang berduka corona menyemburkan asap hitam, hitamnya semakin gelap karena kita tidak tahu kemana arah jalan dan bagaimana melumpuhkan mereka
corona membunuh tanpa suara, merajang tanpa pedang, menguburkan tanpa orang banyak.

Firli Bahuri sang jenderal menggambarkan bahwa bangsa Indonesia sedang berduka menghadapi virus Corona …

Sementara jalan pikiran selalu saja …, mencari cara memberantas korupsi dengan pencegahan karena potret buram sebagai kejahatan, penindasan, perampasan…

Syair itu;
“korupsi bukan hanya kejahatan merugikan keuangan negara,
tetapi korupsi merupakan bagian dari kejahatan merampas hak-hak rakyat,

Sebuah kepercayaan dan amanat. juga membentengi kekuatan seluruh nusantara, membangun martabat bangsa dan negara sang Jenderal Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, benar-benar ingin “Membangun Martabat Bangsa”, membisikkan pesan duka menyayat kalbu antara korupsi dan potret kemiskinan, lukisan buram anak yatim dan fakir miskin.

“…, disaat yang sama, hari ini kita juga berjibaku melawan musuh bangsa sendiri ;
melawan para koruptor,

tentu kita bertanya, kenapa kita harus melawan korupsi karena kita harus membangun martabat kebangsaan, karena kita harus mengentaskan kemiskinan, karena kita memajukan kesejahteraan, karena kita harus mencerdaskan kehidupan bangsa, memelihara anak yatim – fakir miskin dan anak telantar, karena Indonesia untuk kita semua dan kita semua untuk Indonesia.

Bukan Jenderal Bintang Tiga, goresan tinta bermartabatnya, mengajak semua kita berbaris dalam satu gerakan melawan korupsi dengan bambu runcing sekalipun, walaupun senjata modern sudah meluluhlantakkan negara-negara hebat bermartabat. Tetapi “Membangun Martabat Bangsa” tetap saja melawan ketidakadilan dan membela mereka yang teraniaya;


melawan kebodohan, melawan kemiskinan, melawan ketertinggalan, melawan intoleransi, melawan persekusi dan melawan korupsi..

karenanya sudah saatnya seluruh anak bangsa berperan untuk menghentikan korupsi dan mengangkat senjata, walaupun mengajak dengan ramah seperti sedang menonton perang lama dengan senjata utama bambu runcing, sebuah sindiran jaman lama jaman belum ada korupsi merajalela, jaman lama jaman bambu runcing sebagai simbol perlawanan rakyat, dan jaman kini bambu runcing mengingatkan segera kembali meruncing tanpa korupsi.

Penggalan bait syair itu; sebuah keutuhan “Membangun Martabat Bangsa”, dengan totalitas, dengan penuh perjuangan juga lemah lembut (tetapi tidak gemulai) … terus membangun marwah menyatukan jiwa seluruh bangsa …

Bait-bait “Membangun Martabat Bangsa”, Pak Polisi Jenderal Bintang Tiga, turut serta mengumandangkan kemerdekaan RI ke-75 tahun, dengan sentuhan karya seni begitu berisi … sebuah karya seni begitu ingin sekali membebaskan seluruh anak negeri dari korupsi. (rilis)

Sumber: wartatransparansi.com

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *