Firli Bahuri, Olahraga, Sportifitas dan Semangat Anti Korupsi

  • Whatsapp
banner 468x60

(JAKARTA) – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Komjen Pol Drs. H. Firli Bahuri, M.Si., dikenal sebagai sosok pecinta olahraga. Meski kesibukannya yang padat, namun perwira tinggi polri ini ternyata selalu menyempatkan berolahraga untuk menjaga stamina yang bugar menunjang pelaksanaan tugas negara yang diamanahkan kepadanya.

Tetapi ternyata olahraga bagi Komjen Firli, bukan semata untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani. Seloain di badan yang kuat, terdapat jiwa yang sehat, sportifitas olahraga juga bisa menumbuhkan semangat silaturahmi. Tak kalah penting, semangat anti korupsi.

Bacaan Lainnya

banner 300250

Di bidang olahraga, suami dari Ardina Safitri ini menjadi sorotan lantaran sebagai penegak hukum yang moncer, juga punya ketertarikannya pada olahraga tenis dan bulu tangkis.

“Dalam rangka menyambut Hari Olah Raga Nasional (HAORNAS) yang diperingati setiap tanggal 9 September mendatang. Ayo kita selalu berolah raga. Didalam tubuh yang sehat maka terdapat jiwa yang sehat pula.” dikatakan Ketua KPK RI ini.

Firli mengaku bahwa olahraga membantunya berekspresi secara positif serta menjaga silaturahmi silaturahmi.

“Olahraga memang membangun dan memelihara silaturahmi olahraga tenis sudah saya lakukan sejak duduk di bangku kuliah. Bahkan bulutangkis sejak masih sekolah dasar sudah sering bermain.” terangnya seperti dilansir rmol.id.

Menjunjung Sportifitas

Olahraga, bagi mantan Kabaharkam Polri ini, selain membantu membangun jiwa kompetitif serta caranya memandang kemenangan dalam sebuah pertandingan.

“Setiap pertandingan itu pasti ada menang dan kalah, tetapi tidak ada orang yang ingin bertanding dengan target kalah, pasti ingin menang. Kalau pun harus kalah jangan terlampau jauh. Jika ibarat tenis, kalahnya tie break, 10-9 atau 7-6,” terangnya.

Mantan Deputi Penindakan KPK yang telah ikut membidani puluhan kali Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK selama ini meneruskan, nilai-nilai positif itu, menurut Firli, bisa dilakukan dalam kompetisi apapun dalam kehidupan sehari-hari agar tidak tertinggal jauh dalam hal prestasi.

Selain kompetitif, olahraga juga membantu membangun jiwa kepempimpinan yang baik (leadership). Seperti pelajaran yang dari olahraga tenis. Ketika baru terpilih sebagai ketua KPK, misalnya, banyak suara penolakan dari dalam KPK sendiri terhadap Firli. Namun dia menanggapi dengan tenang dan mengawali masa tugas bersilaturahmi dengan seluruh jajaran di KPK. Firli mengibaratkan kondisi yang dialaminya tersebut dengan hobi tenisnya.

“Kalau saya mau tahu tentang dunia bulu tangkis, saya harus belajar bulu tangkis. Kalau saya mau tahu dunia tenis, saya harus belajar tenis,” tandasnya.

Lawan Juara Dunia

Firli tertarik di olahraga seperti bulutanglis bukan masih baru. Bahkan sejak menjabat Kapolda Sumatera Selatan. Dia mengisahkan, saat menjabat Kapolda Sumatera Selatan pernah mengundang juara bulu tangkis dunia, Ahsan-Hendra bermain turnamen badminton di Palembang.

Mengutip dari Tempo.co, Firli Bahuri menerangkan, dia mendesain nuansa turnamen itu bak kejuaraan dunia. Pilar gelanggang olahraga yang dipakai sebagai tempat turnamen dipasangi bendera negara yang terkenal jago main badminton, seperti Cina, Malaysia, Spanyol, Jepang dan Korea.
Dalam turnamen itu, Firli berpasangan dengan Hendra Setiawan. Salah satu lawannya, Ahsan – Panglima Komando Daerah Militer Sriwijaya.
Supaya pertandingan menjadi lebih seru, Firli Bahuri sampai mengatur cara setiap pemain memasuki lapangan pertandingan.
Dia lalu menirukan ucapan pembawa acara kejuraan badminton di Palembang.
“Ya, berikutnya pertandingan pertama, ganda putra, Kapolda Sumatera Selatan berpasangan dengan Hendra,” ucap Firli. “Waaah, masuk kami disorot pakai lampu, sampai begitu.”

Spirit Anti Korupsi

Semangat olahraga juga bisa menumbuhkan semangat anti korupsi. DImana melihat sportifitas yang menghasilkan prestasi, bukan sebuah kecurangan.

“Kalau sportif, mampu mencetak prestasi yang sesungguhnya, maka atlit atau pemain olahraga tak akan berbuat curang. Di hatinya, tidak akan mau memanipulasi yang diluar kemampuannya. Disinilah spirit sportifitas dan korelasi anti korupsi itu ada,” tutur Firli.

Secara kelembagaan, KPK juga menganalogikan sebuah kerjasama tim seperti layaknya kesebelasan sepakbola.
Di KPK, lanjut Firli, yang harus dilakukan KPK bukan mengedepankan salah satu aspek dan menomorduakan aspek lain. Melainkan karya melebihi upaya yang sama. Plus, di saat bersamaan juga mendorong agar aspek pendidikan dan kampanye anti korupsi bisa lebih efektif.

Firli Bahuri mengibaratkan KPK seperti kesebelasan sepakbola. Tidak mungkin semua pemain yang diturunkan adalah striker atau penyerang yang mencetak gol ke lawan. Harus ada pemain-pemain yang ditugaskan sebagai pemain bertahan, pemain sayap, pemain gelandang (pemain tengah), dan tentu penjaga gawang.

“Tidak ada gol yang terjadi dengan sendirinya. Sebuah gol adalah hasil dari kerja tim,” ujar Firli dalam sebuah kesempatan berbincang di bilangan Jakarta Selatan, akhir bulan Agustus lalu.

“Bahkan dukungan penonton sekalipun memiliki kontribusi terhadap performa kesebelasan di lapangan,” sambungnya.

Lanjut dia, kerangka hukum yang memberikan kewenangan kepada KPK untuk melakukan pencegahan sistematis. Tugas KPK telah disebutkan dalam UU 19/2019 tentang Perubahan Kedua atas UU 30/2002 KPK. Di dalam point huruf a yang berisi perubahan atas Pasal 6 UU 30/2002 terulang bahwa KPK melakukan tindakan-tindakan pencegahan sehingga tidak terjadi tindak pidana korupsi.

Dalam rangka melakukan pencegahan itu, KPK diberi kewenangan untuk melakukan koordinasi terhadap instansi yang berwenang melaksanakan pemberantasan korupsi dan instansi yang melaksanakan pelayanan publik yang merupakan amanat pasal 6 huruf b uu 19 th 2019 terkait tugas pokok kpk.

Selain itu, KPK juga ditugaskan untuk melakukan monitoring terhadap penyelenggaraan program pemerintahan negara sebagaimana pasal 6 huruf c uu 19 th 2019 dan supervisi terhadap instansi yang melaksanakan pemberantasan tindak pidana korupsi.

Sudah barang tentu KPK juga diberi tugas untuk melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi, serta melakukan tindakan untuk melaksanakan hukum pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Bila mencermati bagian ini, sambung Firli Bahuri, dapat dipahamai bahwa tugas KPK di bawah UU 19/2019 semakin penting.

“Penindakan harus dilakukan bersamaan dengan pencegahan dan pendidikan. Tidak boleh ada satu aspek yang mendahului aspek lainnya. Dan khusus untuk pencegahan, KPK telah melibatkan banyak pihak, yang artinya melakukan pencegahan secara sistemik dan sistematik,” urai Firli.

“Korupsi dimungkinkan oleh sistem yang gagal, sistem lemah dan sistem yang buruk. Maka dari itu, kita harus membenahi sistem yang dianggap gagal, lemah buruk tadi, sehingga dengan membenahi sistem akan menutup semua pintu yang dapat memancing dan menghilangkan peluang pihak-pihak tertentu yang melakukan korupsi,” pungkasnya. (rilis/bu-01)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *