Senator Yogyakarta Dukung Kecaman Presiden Jokowi Terhadap Presiden Prancis Macron

  • Whatsapp

YOGYAKARTA – Senator Yogyakarta Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. memuji sikap Presiden Joko Widodo atas kecamannya kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron. Pasalnya, Macron telah mengeluarkan pernyataan yang menyinggung umat Islam di seluruh dunia menyusul berbagai insiden kekerasan yang terjadi di negaranya.

 

Bacaan Lainnya

banner 300250

Diketahui bahwa Presiden Jokowi menyatakan hal tersebut setelah menggelar pertemuan dengan berbagai tokoh agama seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), PP Muhammadiyah, Konferensi Wali Gereja Indonesia, Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Persatuan Umat Buddha Indonesia, dan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia.

 

“Kita patut mengapresiasi pernyataan Presiden Jokowi yang sangat tegas itu. Apalagi mengingat penduduk Indonesia merupakan mayoritas muslim. Pak Jokowi cukup sensitif menangkap keresahan masyarakat,” kata pria yang akrab disapa Gus Hilmy tersebut di Gedung DPD RI D.I. Yogyakarta, Sabtu (31/10).

 

Gus Hilmy menyatakan bahwa kita memang harus menolak dan mengecam kekerasan apa pun bentuknya, akan tetapi, menuduh suatu kelompok apalagi agama tertentu sebagai dalang atas tindakan tersebut, jelas bukan sikap bijaksana.

 

Atas hal itu, Gus Hilmy mendukung sikap Presiden Jokowi memberikan kecaman terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyatakan akan melawan berbagai bentuk “terorisme Islam”. Menurutnya, terorisme bukan bagian dari Islam.

 

“Islam agama yang damai, rahmat bagi seluruh alam. Tidak ada ajaran kekerasan di dalamnya,” kata salah satu pengasuh Pondok Pesantren Krapyak tersebut.

 

Gus Hilmy juga menyangkal pernyataan Macron yang mengatakan Islam saat ini sedang krisis. Menurutnya, Islam tetap kokoh meski zaman terus mengalami berubahan dan Islam mampu beradaptasi secara baik dengan berbagai kebudayaan.

 

“Menyorot soal Islam agama krisis. Itu dari mana? Padahal Islam terbukti mampu tumbuh dan berkembang bersama seusia dengan peradaban manusia itu sendiri,” katanya.

 

Pernyataan Macron dinilai bahwa ia tidak memahami Islam serta menunjukkan kelas dan kapasitasnya yang tidak setara dengan kebesaran Prancis.

 

Lebih lanjut, Anggota Komite III DPD RI tersebut menyatakan bahwa pernyataan Macron tidak selaras dengan prinsip negaranya yang sekular, yang dianut sejak pascarevolusi dengan moto liberty, equality, fraternity. Bahkan, negara tersebut memiliki UU yang melindungi sekularisme.

 

“Dengan prinsip itu, Prancis mestinya menghargai ajaran-ajaran agama, yang di antara tidak memvisualkan Nabi Muhammad SAW. Dan kalau berbicara mengenai kebebasan, tentu ada batasnya, yaitu tidak mencederai hak asasi orang lain,” katanya.

 

Gus Hilmy menyatakan kekhawatirannya setelah rangkaian peristiwa ini, yaitu disahkannya UU tentang separatisme Islam yang akan mengancam kebebasan masyarakat Islam di negara tersebut.

 

Tetapi yang lebih penting, menurut Gus Hilmy, adalah menjaga dan menenangkan umat Islam serta tidak perlu menyikapinya secara berlebihan. Apalagi saat ini adalah bulan mulia di mana Nabi Muhammad SAW dilahirkan.

 

“Di bulan Rabi’ul Awwal, atau bulan kelahiran Nabi, melalui kasus ini, kita diuji untuk bisa meneladani Nabi. Antara lain, Nabi bersabda: Berbuat baiklah pada orang yang telah berlaku buruk kepadamu. Justru kita sebagai kaum muslimin perlu menunjukkan kepada dunia bahwa kita tidak terpengaruh dengan pernyataan remeh-temeh seperti itu dengan tidak perlu menyikapinya secara berlebihan,” pungkasnya. (rilis)

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *