Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, baru-baru ini menyalurkan bantuan sebagai bagian dari tradisi meugang untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah. Dalam acara ini, bantuan berupa hewan ternak sapi diberikan kepada masyarakat yang terdampak bencana banjir yang melanda daerah tersebut beberapa bulan lalu.
Bantuan yang disalurkan oleh Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, bersama dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Kabupaten Pidie Jaya, berlangsung pada hari Senin. Acara tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap komunitas yang sedang berjuang dalam masa pemulihan.
Bantuan ini ditujukan untuk warga yang mengalami kerusakan akibat bencana banjir yang terjadi di akhir November 2025. Beberapa kecamatan yang menerima bantuan ini meliputi Meureudu, Meurah Dua, Trienggadeng, Panteraja, Bandar Dua, Ulim, dan Bandar Baru.
Tujuan dan Manfaat dari Bantuan Tradisi Meugang
Tradisi meugang di Aceh merupakan kebiasaan yang sudah berlangsung sejak lama, di mana masyarakat menyembelih hewan ternak sebagai bentuk syukur dan persiapan menyambut bulan puasa. Melalui bantuan ini, pemerintah ingin memastikan masyarakat dapat tetap menjalankan tradisi tersebut meskipun dalam kondisi sulit akibat bencana.
Sibral mengatakan, “Bantuan ini adalah wujud perhatian pemerintah pusat kepada masyarakat yang masih dalam proses pemulihan.” Ia juga menekankan pentingnya tradisi meugang dalam menjaga persatuan dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Bantuan yang diberikan mencakup total anggaran sebesar Rp4,9 miliar, yang digunakan untuk membeli 245 ekor sapi. Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendukung masyarakat melalui langkah yang konkret dan tepat sasaran.
Proses Distribusi dan Pengawasan Bantuan
Proses distribusi bantuan sapi dilakukan dengan sangat teliti. Setiap hewan ternak dilengkapi dengan nomor seri yang terdaftar sesuai data desa penerima, sehingga penyaluran dapat dipantau secara jelas. Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap desa mendapat porsi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Jika terjadi kesalahan pada distribusi, seperti nomor seri yang tertukar, Sibral menegaskan bahwa sapi tersebut harus dikembalikan. Ini bertujuan untuk menjaga integritas dan kekacauan dalam sistem distribusi.
Camat dan aparatur desa juga dilibatkan dalam proses ini, untuk mendampingi dan memastikan bahwa penyaluran berlangsung dengan tertib. Langkah ini diambil agar semua aspek pengukuran dan pelaporan berjalan dengan baik, serta menghindari kesalahpahaman di lapangan.
Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Masyarakat Terdampak
Sibral berharap bantuan tersebut tidak hanya meringankan beban masyarakat, tetapi juga mempererat kebersamaan dalam menjalani tradisi meugang. Dalam situasi sulit pascabencana, semangat komunitas sangat penting untuk mempercepat proses pemulihan.
“Semoga bantuan ini dapat membantu masyarakat merayakan dan menikmati tradisi meugang bersama keluarga,” ucap Sibral dengan harapan bahwa masyarakat dapat kembali bangkit setelah masa sulit.
Pentingnya kegiatan semacam ini juga berkontribusi terhadap pulihnya kehidupan sosial dan ekonomi pascabencana. Dengan begitu, masyarakat bisa menjalani kehidupan yang lebih baik dan lebih optimis akan masa depan.