PSIM Yogyakarta telah mengambil langkah berani dengan memutuskan untuk memensiunkan nomor punggung 91, yang dikenal karena dipakai oleh Rafael de Sa Rodrigues, atau akrab disapa Rafinha. Keputusan ini merupakan bentuk penghormatan atas kontribusinya yang luar biasa dalam membawa PSIM kembali ke kompetisi tertinggi sepak bola nasional setelah bertahun-tahun.
Rafinha mencatatkan namanya dalam sejarah klub dengan mencetak 20 gol dari 22 pertandingan di Liga 2 2024/2025, termasuk gol-gol krusial yang mengantar tim meraih kesuksesan. Ketika melihat kembali perjalanan karirnya, tentu ada banyak momen yang menjadi kenangan manis bagi para penggemar dan keluarga besar PSIM.
Pengumuman tentang p pensiunan nomor punggung 91 diungkapkan oleh pihak klub melalui media sosial, menegaskan bahwa warisan Rafinha akan selalu hidup dalam ingatan para penggemar. Ini adalah pengakuan atas perjuangan dan dedikasinya selama berseragam PSIM.
Perjalanan Karir Rafael de Sa Rodrigues di PSIM Yogyakarta
Sebelum bergabung dengan PSIM, Rafinha telah memiliki pengalaman bermain di berbagai klub di Brasil dan lainnya. Namun, saat ia tiba di Yogyakarta, tidak ada yang memperkirakan dampak besar yang akan ia bawa. Sejak saat itu, Rafinha langsung mencuri perhatian dengan performa yang sangat mengesankan.
Salah satu momen paling berkesan dalam kariernya di PSIM adalah saat mencetak gol dalam laga final Liga 2 melawan Bhayangkara. Gol tersebut menjadi puncak dari perjalanan panjang PSIM untuk mencapai kembali kasta tertinggi setelah 18 tahun. Keberhasilannya itu tidak hanya membanggakan dirinya, tetapi juga seluruh klub dan pendukung setia.
Rafinha sangat menyadari arti penting setiap gol yang ia cetak untuk PSIM. Setiap golnya dianggap sebagai langkah menuju sesuatu yang lebih besar, yakni membawa PSIM kembali ke Super League. Apresiasi para penggemar sangat terasa setiap kali namanya dipanggil saat pertandingan berlangsung.
Pensiunnya Nomor Punggung dan Makna di Baliknya
Pensiunnya nomor punggung 91 bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga simbol dari hubungan emosional yang kuat antara Rafinha dan para suporter. Dalam sepak bola, banyak klub yang memilih untuk memensiunkan nomor untuk menghormati pemain yang telah memberikan kontribusi luar biasa. PSIM Yogyakarta berjalan di jalur yang sama dengan keputusan ini.
Pihak manajemen klub, dalam pengumumannya, menegaskan bahwa nomor punggung 91 akan terpatri selamanya di hati penggemar dan klub. Mereka percaya bahwa tindakan ini akan menginspirasi generasi pemain berikutnya untuk memberikan yang terbaik bagi tim.
Melalui langkah ini, PSIM menunjukkan bahwa mereka menghargai setiap individu yang pernah mengenakan jersey klub. Ini adalah pengingat bahwa setiap pemain memiliki cerita unik yang berkontribusi pada sejarah tim.
Performa Rafinha di Musim Terakhir dan Perpindahan ke PSIS Semarang
Di musim terbarunya, penampilan Rafinha tidak seoptimal sebelumnya. Dari 15 pertandingan yang dijalani, ia hanya tampil dalam tiga laga sebagai pemain pengganti. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri baginya untuk menunjukkan kualitas yang pernah dicapainya di musim sebelumnya.
Pelatih PSIM saat ini, Jean-Paul van Gastel, lebih mempercayakan posisi striker utama kepada Nermin Haljeta yang telah menunjukkan performa konsisten dengan mencetak empat gol. Keputusan pelatih tersebut mendapat beragam reaksi dari penggemar, melihat potensi besar yang dimiliki Rafinha.
Akibat situasi tersebut, Rafinha pun memilih untuk hengkang ke PSIS Semarang yang kini berjuang lepas dari zona degradasi. Ia berharap bisa mendapatkan lebih banyak kesempatan bermain dan kembali tampil dalam performa terbaiknya. Keputusan ini adalah sebuah babak baru yang penuh harapan dalam karirnya.
Rafinha mengungkapkan perasaannya saat meninggalkan PSIM, sekaligus berharap tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah klub. Ia merasa campur aduk antara sedih dan bahagia, tetapi yakin ini semua demi karirnya ke depan. Keputusan untuk pindah adalah pilihan sulit, namun ia optimis akan masa depannya.