“Perempuan Sumba tidak bisa disebut perempuan Sumba kalau tidak bisa menenun,” ungkap Diana Kalera Lena, seorang perajin tenun, dalam sebuah acara. Menurutnya, menenun adalah tradisi yang diajarkan dari generasi ke generasi, menjadi bagian penting dari identitas perempuan Sumba.
Sejak usia dini, proses menenun telah menjadi bagian integral dari kehidupan mereka. “Sejak saya berusia enam tahun, saya sudah membantu ibu saya menenun dan mulai menenun sendiri ketika berusia 17 tahun,” tambah Diana, menggambarkan perjalanan panjangnya dalam dunia menenun.
BCA melalui Bakti BCA berupaya mempertahankan tradisi ini dengan meluncurkan program pelatihan wastra warna alam. Kerjasama dengan Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI) ditujukan untuk memberdayakan para penenun Sumba agar keterampilan dan pengetahuan mereka terus berkembang.
Melalui program ini, Diana merupakan salah satu penenun yang mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang. Program ini diikuti oleh 50 peserta dari empat komunitas, termasuk Kambatatana dan Wukukalara, dengan rentang usia antara 25 hingga 45 tahun.
Peserta didominasi oleh perempuan, namun dukungan dari laki-laki pun sangat diperlukan, terutama dalam pengembangan motif dan pengolahan bahan warna alam. Menariknya, Diana menjadi penenun pertama dari komunitasnya yang bergabung dalam program pelatihan ini.
Dengan kemauannya yang kuat, dia berhasil mengajak 13 orang dari desanya untuk turut serta. Menurut Diana, manfaat dari pelatihan ini sangat besar dan berdampak positif bagi komunitas penenun di Sumba.
Mukun dan Tradisi Menenun Perempuan Sumba yang Mengakar
Menenun bukan hanya sekadar aktivitas, tapi lebih dari itu, ia adalah symbol budaya dan identitas. Setiap motif dan warna pada kain yang dihasilkan memiliki makna yang mendalam, menceritakan kisah dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Sumba.
Diana menjelaskan bahwa proses menenun melibatkan banyak tahapan yang memerlukan ketelatenan dan keterampilan tinggi. Tidak jarang, keterampilan ini diwariskan dari ibu kepada anak, menciptakan hubungan emosional yang kuat dalam keluarga.
Kain tenun Sumba tidak hanya digunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian penting dalam berbagai upacara adat. Keberadaan kain tersebut menunjukkan status sosial dan juga menjadi simbol persatuan dalam komunitas.
Pendidikan mengenai tradisi menenun dari generasi ke generasi menjadi vital untuk melestarikan kekayaan budaya ini. Program yang diinisiasi oleh BCA ini berperan penting dalam memberikan wawasan baru dan teknik modern kepada para penenun.
Untuk memastikan keberlanjutan tradisi ini, komunitas penenun perlu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dengan kreativitas dan inovasi, mereka dapat menghasilkan kain tenun yang tidak hanya indah, tetapi juga relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.
Menggali Potensi Ekonomi dari Tenun Sumba
Pentingnya memberdayakan penenun tidak hanya untuk melestarikan budaya, tetapi juga untuk meningkatkan ekonomi setempat. Kain tenun Sumba yang unik dan berkualitas tinggi memiliki daya tarik bagi pasar lokal dan internasional.
Program pelatihan yang diadakan di Sumba berfokus pada peningkatan keterampilan tidak hanya dalam menenun tetapi juga dalam marketing dan manajemen bisnis. Hal ini bertujuan agar para penenun dapat menjual karya mereka secara langsung ke konsumen.
Pemasaran produk tenun melalui media sosial dan platform digital telah membuka peluang baru bagi penenun. Dengan cara ini, mereka dapat menjangkau pelanggan yang lebih luas dan meningkatkan pendapatan mereka.
Selain itu, adanya kolaborasi antara penenun dan desainer dapat menciptakan produk yang lebih inovatif. Kombinasi antara tradisi dan modernitas akan menjadi daya tarik tersendiri di pasar yang semakin kompetitif.
Dengan meningkatnya kesadaran akan nilai kerajinan tangan, kain tenun Sumba berpotensi menjadi komoditas yang diminati. Terlebih lagi, dengan pembinaan yang baik, para penenun dapat membangun brand mereka sendiri dan menarik perhatian dari berbagai kalangan.
Menghadapi Tantangan dan Membangun Masa Depan Penenun Sumba
Dalam setiap langkah, penenun Sumba menghadapi berbagai tantangan. Perubahan iklim, misalnya, dapat mempengaruhi sumber bahan baku yang mereka gunakan untuk menenun.
Akses terhadap teknologi yang lebih baik dan pelatihan mengenai teknik modern menjadi hal yang sangat diperlukan. Dengan kemajuan teknologi, mereka bisa menghasilkan kain dengan efisiensi dan kualitas yang lebih tinggi.
Selain itu, kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya dalam masyarakat modern juga menjadi tantangan tersendiri. Masyarakat perlu terlibat aktif dalam upaya menjaga tradisi yang sudah ada dalam jangka waktu lama.
Penting juga untuk membangun jaringan dan kolaborasi antar penenun agar mereka dapat saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Komunitas yang kuat akan berdampak positif pada perkembangan mereka kedepannya.
Investasi dalam pendidikan dan pelatihan sangat dibutuhkan agar tradisi menenun Sumba tidak hanya tetap hidup, tetapi juga berkembang dalam konteks yang lebih luas, memberikan manfaat bagi seluruh komunitas. Dengan cara itu, perempuan Sumba akan terus memegang peranan penting dalam dunia tenun dan budaya mereka.