Jaksa KPK Ungkap Pertemuan dan Suap Bos ke Pejabat Bea Cukai

Pimpinan sebuah grup kargo, yang dikenal luas, kini menghadapi tuduhan serius terkait suap menyuap di sektor kepabeanan. Kasus ini melibatkan sejumlah pejabat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang diduga menerima imbalan untuk memudahkan proses pengiriman barang.

John Field, sebagai pemimpin grup tersebut, dituduh bersama rekan-rekannya terlibat dalam praktik ilegal ini dengan total suap yang mencapai Rp61 miliar. Selain uang, mereka juga memberikan hadiah mewah dan fasilitas hiburan senilai lebih dari Rp1,8 miliar.

Dalam surat dakwaan yang dibacakan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), proses suap ini diuraikan dengan jelas. Beberapa pejabat kunci terlibat dalam pertemuan-pertemuan yang mengarah pada pemberian suap ini.

Pertemuan Awal yang Mencurigakan di Jakarta

Pertemuan pertama antara John Field dan pejabat Bea dan Cukai terjadi di sebuah restoran di Kelapa Gading pada bulan Mei 2025. Dalam pertemuan tersebut, John mengenalkan perusahaannya yang bergerak di bidang logistik dan kepabeanan kepada Rizal, seorang pejabat di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Kemudian, di bulan Juni 2025, John melanjutkan interaksinya dengan Sisprian, pejabat lain dari Direktorat Penindakan dan Penyidikan. Dia kembali menegaskan posisi Blueray Cargo dalam dunia bisnis impor barang, berharap dapat memperoleh dukungan untuk kelancaran operasional perusahaannya.

Pertemuan demi pertemuan dilakukan untuk membangun hubungan dan memastikan tidak ada hambatan dalam proses pengiriman barang. Salah satu pertemuan penting terjadi pada bulan Juli di Hotel Borobudur, di mana perwakilan Bea dan Cukai berkumpul bersama pengusaha kargo lainnya, termasuk John.

Proses Suap yang Terus Berlanjut

Dalam bulan Agustus 2025, John dan timnya mengadakan pertemuan lagi dengan pejabat Bea dan Cukai di Phoenix Gastrobar. Dalam pertemuan ini, John menyampaikan masalah yang dihadapi terkait barang-barang impor yang masuk ke “jalur merah” yang lebih rumit dan berisiko tinggi.

Orlando, salah satu pejabat yang hadir, memberi arahan tentang langkah-langkah yang harus diambil untuk membantu John. Dia menyarankan agar John bekerja sama dengan Fillar, serta menyusun parameter untuk menilai risiko impor barang perusahaan.

Proses penyusunan ini melibatkan nota dinas yang disetujui oleh beberapa pejabat kunci di Ditjen Bea dan Cukai. Dengan informasi ini, Dedy Kurniawan, salah satu terdakwa, mampu memilih jalur yang lebih aman untuk pengiriman barang.

Pembayaran dan Fasilitas Ekstra untuk Pejabat

Sejak bulan Juli 2025 sampai Januari 2026, para terdakwa memberikan suap berupa uang kepada pejabat Bea dan Cukai, dengan total mencapai Rp61,3 miliar. Pembayaran dilakukan dalam bentuk dolar Singapura, menunjukkan sifat transaksi yang dirancang dengan cermat untuk menghindari jejak.

Rizal, Sisprian, dan Orlando menerima bagian terbesar dari jumlah tersebut. Masing-masing mendapatkan uang tunai yang cukup signifikan, dengan sisanya dialokasikan kepada pejabat lain yang belum diproses secara hukum.

Fasilitas hiburan dan barang mewah juga diberikan sebagai tambahan dari pembayaran suap. Beberapa pejabat menerima barang seperti jam tangan mahal dan mobil, menunjukkan betapa jelasnya praktik suap ini dalam dunia bisnis dan pemerintahan.

Related posts