Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Akhmad Sodiq, baru-baru ini menjelaskan keputusan untuk mengirimkan perwakilan mahasiswa dalam kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Indonesia Timur. Penjelasan ini disampaikan dalam konteks aksi protes yang dilakukan oleh mahasiswa Unsoed yang merasa tidak terwakili dalam keputusan tersebut.
Aksi protes yang berlangsung di depan Rektorat Unsoed ini melibatkan ratusan mahasiswa yang mengekspresikan kekhawatiran mereka terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan inisiatif Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Para mahasiswa tersebut menuntut adanya representasi yang lebih baik dalam perumusan kebijakan yang berdampak pada mereka.
Dalam demonstrasi tersebut, mahasiswa menggelar poster bertulisan ‘Duta Kampus atau Duta MBG Kopdes?’. Tindakan ini menggambarkan kegundahan mereka dan mengangkat suara kritis terhadap keputusan yang diambil tanpa melibatkan partisipasi aktif dari kalangan mahasiswa, yang seharusnya menjadi bagian integral dalam setiap diskusi kebijakan.
Keberatan Mahasiswa Terhadap Delegasi yang Dikirim
Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsoed, Azza Febra Pramudika, menekankan bahwa delegasi yang dikirimkan oleh Unsoed tidak mencerminkan semangat perjuangan mahasiswa. Ia menegaskan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam setiap keputusan yang diambil, terutama yang terkait dengan program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih.
Azza mengungkapkan, “Kami mengakumulasikan kemarahan dan kekecewaan karena melihat delegasi yang tidak merepresentasikan semangat perjuangan mahasiswa.” Ia juga menandaskan bahwa mahasiswa menolak segala bentuk kompromi politik dengan kekuasaan yang bisa merugikan aspirasi mereka.
Mahasiswa menginginkan pengakuan dari pihak pimpinan kampus terkait kekeliruan dalam proses pengiriman delegasi tersebut. Mereka mengharapkan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan dan agar proses komunikasi antara mahasiswa dan pimpinan kampus dapat diperbaiki menjadi lebih baik.
Pernyataan Rektor Mengenai Tuntutan Mahasiswa
Rektor Akhmad Sodiq menyatakan bahwa pihaknya telah mencatat semua masukan dari mahasiswa dan berkomitmen untuk menjadikannya sebagai bahan evaluasi. Ia mengaku telah mendengar enam tuntutan yang disampaikan dan berharap ini akan menjadi langkah evaluasi yang konstruktif.
Sodiq menekankan bahwa Universitas Jenderal Soedirman tetap berkomitmen pada tridarma perguruan tinggi, yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ia menjelaskan bahwa kebijakan terkait MBG dan Merah Putih merupakan wewenang yang datang dari pusat dan bukan keputusan internal universitas.
Ia menambahkan, “Surat dari Sekretaris Jenderal terkait penunjukan mahasiswa untuk menjalani kegiatan tersebut tidak mencakup rincian lengkap mengenai rangkaian aktivitas.” Sodiq juga menegaskan bahwa mahasiswa yang dikirim berperan aktif dalam memberikan masukan berdasarkan pengamatan mereka di lapangan.
Komitmen Pimpinan Kampus dan Mahasiswa ke Depan
Akhmad Sodiq menegaskan pentingnya kolaborasi antara mahasiswa dan pimpinan untuk meningkatkan pengawasan terhadap implementasi keputusan yang diambil. Ia berharap agar hal ini dapat menciptakan hubungan yang lebih harmonis dan demokratis antara mahasiswa dan pimpinan universitas.
“Saya berharap apa yang dinyatakan tidak hanya sekadar retorika, tetapi diimplementasikan dalam kebijakan yang transparan,” lanjutnya. Komitmen yang telah diutarakan diharapkan dapat diterjemahkan dalam tindakan nyata di lapangan, sehingga mahasiswa merasa lebih terlibat dalam keputusan penting.
Mahasiswa, di sisi lain, menyatakan bahwa mereka akan terus melakukan pengawasan terhadap tindak lanjut dari hasil pernyataan sikap yang telah dibacakan. Mereka ingin memastikan bahwa jaminan yang diberikan oleh rektor tidak berhenti pada kata-kata semata, tetapi juga terlihat dalam kebijakan yang diambil oleh universitas.