Fajar Radhitya Kusuma mengalami pengalaman tidak menyenangkan saat melakukan penerbangan Garuda Indonesia GA 712 dari Jakarta menuju Sydney. Saat menjelang pendaratan di Bandara Internasional Kingsford Smith pada 25 Desember 2025, pesawat mengalami turbulensi parah yang membuat panik para penumpang.
Di tengah situasi tersebut, Fajar merasakan guncangan hebat yang membuatnya takut. Ia mengungkapkan betapa mendebarkannya saat pesawat tiba-tiba mengalami penurunan ketinggian sekitar 400 meter secara tiba-tiba.
Fajar menjelaskan bahwa turbulensi tersebut dimulai saat penumpang sudah mengenakan sabuk pengaman jelang landing. Kejadian ini tentu membuat banyak penumpang merasa cemas dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi dalam situasi yang tidak terduga ini.
Penerbangan yang Menegangkan dan Ketidakpastian di Udara
Turbulensi yang dialami Fajar bukan hanya sekadar guncangan biasa, tetapi sesuatu yang membuat adrenalinnya meningkat. Ia mengaku bahwa kondisi pesawat yang tiba-tiba terjun menjadikannya cemas.
Menurut Fajar, penurunan ketinggian yang agresif itu disusul dengan beberapa guncangan lebih kecil yang terus hadir selama lima menit. Pengalaman ini, meskipun menegangkan, menegaskan tantangan yang dihadapi banyak penumpang saat terbang.
Saat detik-detik terakhir sebelum mendarat, Fajar sempat merasa panik dan sedikit blank, bersiap mental untuk menghadapi segala kemungkinan yang mungkin dapat terjadi. Sikap mental inilah yang membuatnya bisa lebih tenang saat situasi dramatis berlangsung.
Respon dari Pihak Penerbangan dan Klarifikasi
Setelah mendarat dengan selamat, penumpang mulai merasakan ketegangan saat mengetahui bahwa ada kabar tentang dua awak kabin yang mengalami cedera. Informasi ini membuat banyak orang merasa khawatir, terutama ketika mereka menunggu penjelasan dari pihak penerbangan.
Namun, pihak Garuda Indonesia kemudian memberikan klarifikasi bahwa tidak ada awak kabin yang mengalami patah tulang. Mereka menyatakan bahwa kejadian yang dialami Fajar tidak melibatkan cedera serius, dan semua penumpang mendapatkan penanganan yang tepat setelah landing.
Kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya komunikasi yang efektif dalam situasi darurat agar penumpang tidak panik. Ketika penumpang tidak mendapatkan informasi yang jelas, ketidakpastian akan menyebar dengan cepat di dalam kabin pesawat.
Pengalaman Penumpang yang Menginspirasi Sikap Siaga
Meskipun peristiwa ini cukup mengejutkan, pengalaman Fajar memberikan pelajaran berharga tentang kepanikan di udara. Ia menyatakan bahwa penumpang harus selalu siap menghadapi hal-hal tak terduga ketika berada dalam keadaan terbang.
Berbekal pengalaman yang membuatnya trauma, Fajar menyarankan agar penumpang selalu mematuhi instruksi yang diberikan oleh kru kabin. Yakni, mengenakan sabuk pengaman selama penerbangan, terutama saat menjelang pendaratan.
Selain itu, penumpang juga harus meningkatkan kesadaran situasional dan tetap tenang saat menghadapi kondisi yang mengkhawatirkan. Dengan kesiapan mental yang baik, diharapkan mereka dapat melalui situasi sulit dengan lebih baik.