Endang Kuswati, seorang wanita berusia 40 tahun, ditemukan selamat setelah terjepit di dalam gerbong KRL yang ditabrak Kereta Api Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada malam Senin, 27 April. Kejadian tragis ini mengakibatkan ia harus terjebak semalaman sebelum akhirnya dievakuasi pada Selasa pagi setelah waktu Subuh.
Ayahnya, Mahfud, seorang pria berusia 74 tahun, menceritakan pengalaman sulit yang dihadapinya dan keluarganya setelah menerima kabar kecelakaan tersebut. Mahfud mengatakan bahwa mereka baru bisa masuk ke lokasi kejadian sekitar pukul 3 dini hari setelah menunggu lebih dari beberapa jam.
Ketika akhirnya diizinkan masuk, mereka menemukan situasi yang sangat mengenaskan. Dengan hati yang penuh harapan, Mahfud dan keluarganya mencari Endang di antara puing-puing metal yang hancur akibat tabrakan tersebut.
Proses Evakuasi yang Menyiksa dan Emosional
Proses evakuasi dikenal sangat sulit dan emosional, terutama bagi pihak keluarga. Mahfud ingat saat menemukan pakaian Endang yang sempat terekam kamera wartawan sebagai pertanda harapan.
“Ini bajunya bener, ini anak saya,” ujar Mahfud, mengenang momen ketika mereka berhasil mengidentifikasi sesosok tubuh yang terjepit di dalam gerbong. Pekerjaan penyelamatan sangat memakan waktu karena posisi Endang terganjal di antara mayat-mayat lainnya.
Selama proses evakuasi, situasi di lokasi sangat membuat ngeri dan menegangkan. Endang terpaksa berbagi ruang dengan korban lain, dan keluarga melihat betapa sulitnya proses penyelamatan tersebut berlangsung.
Keadaan Korban Setelah Dievakuasi
Setelah dievakuasi, Endang segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis. Di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Mahfud menerima kabar bahwa putrinya telah sadar, namun masih dalam keadaan terluka parah.
Mahfud mengungkapkan, “Sudah sadar tapi kakinya bengkak, tangan juga bengkak.” Saat ini, putrinya sedang menjalani pemeriksaan lebih lanjut seperti rontgen untuk memastikan kondisinya setelah kejadian traumatis itu.
Komunikasi antara Mahfud dan Endang menjadi terbatas, meski ada kemajuan positif. “Dia hanya bisa mengangguk, ya alhamdulillah bisa berkomunikasi meski dalam keadaan sulit,” ungkapnya dengan penuh haru.
Rincian Kecelakaan yang Sangat Menyedihkan
Kecelakaan ini terjadi saat rangkaian KRL jurusan Bekasi-Cikarang tertabrak mobil di perlintasan. Kereta Argo Bromo Anggrek yang melaju dengan kecepatan 110 km/jam tidak sempat menghentikan laju dan langsung menghantam KRL di gerbong wanita.
Akibat dari insiden mengenaskan ini, setidaknya 15 penumpang dilaporkan meninggal dunia serta banyak lainnya mengalami luka-luka serius. Kejadian ini menarik perhatian publik dan menunjukkan betapa rentannya keselamatan di perlintasan kereta.
Mahfud berharap agar upaya penyelamatan dan proses rehabilitasi putrinya berjalan dengan baik. Dalam sebuah tragedi yang menimpa keluarga, ia merasa bersyukur Endang masih diberikan kesempatan untuk hidup, meskipun harus menghadapi banyak luka fisik dan emosional.